putry ananda

putry ananda

Senin, 16 Mei 2011

kepergiannya


KEPERGIANNYA

Aku mulai duduk di kursi itu melihat jam di dinding yang menunjukkan sekarang sudah jam 3.00 sore, dan mulai berfikir, kenapa ‘Dia’ memanggilku kerumahnya secara mendadak seperti ini, padahal menurutku tidak ada yang harus kami bicarakan.  Dia masuk kedalam kamar  dan aku menunggu diruang tamunya. Tak tahu kenapa aku merasa ada sesuatu yang lain. Dia sahabatku, Tami keluar dari kamar dan mulai duduk di sampingku pula dengan pakaian yang telah terganti. Beberapa saat kami terdiam hingga akhirnya aku mulai mengucap kata,

“Mengapa kau panggil aku kesini? Apa ada sesuatu yang penting mau kau bicarakan denganku ?”
“Sebenarnya ini bukanlah hal yang sangat penting, tapi memang ada sesuatu yang inginku bicarakan padamu dan ini membuatku dan ini yang membuatku sulit.” Katanya dengan sangat serius dan membuat aku semakin penasaran. Sikap Tami tidak biasanya seperti ini. Biasanya Aku dan Tami sering tertawa dan bercanda bersama. Semuanya kembali diam. Tak tahu mengapa suasana saat itu menjadi hening. Meski begitu banyak pertanyaan yang mau ku katakan kepadanya. Aku merasa tak pernah mengenal seorang yang ada disampingku ini.

Hingga akhirnya saat jam sudah 4.00 sore, setelah aku berdiam-diam selama 1 jam, tiba-tiba dia mengajakku keluar rumah. Aku bertanya kembali dalam hati, mengapa dia mengajakku pergi setelah 1 jam berdiam denganku. Aku dan Tami mulai berjalan dari langkah pertama, tak beberapa saat aku baru melangkah, dia mulai berbicara kepadaku. Ia mengungkapkan tentang sekolahnya tadi pagi, membicarakan tentang teman, dan guru-guru yang menurutnya sedikit kejam dan mulai membanyol  hingga aku tertawa kembali dengan sahabatku yang selama ini selalu mendorongku untuk lebih baik dan lebih maju. Selalu ia ceritakan padaku tentang yang selama ini dia alami. Menurutku tak ada rahasia yang dia sembunyikan dariku. Tak terasa waktu telah membawa kami kesuatu tempat. Aku tak tahu dan tak mengerti mengapa Tami mengajakku pergi ke sebuah lapangan terbuka yang cukup luas dengan 1 pohon rindang yang cukup besar. Disana terlihat banyak orang yang sepertinya baru saja selesai bermain bola dan berhamburan untuk keluar dari arena lapangan itu.

Aku dan Tami mulai mendekati tempat itu dan mulai berjalan lagi pergi kearah pohon rindang yagn besar tersebut. Tami duduk dan mulai berkata,

“Kau sahabat terbaikku dan kamu orang ketiga yang kusayang setelah orang tuaku, dank au pula tempatku mencurahkan segala isi hatiku. Karena itulah aku sulit tuk meninggalkanmu.” Katanya panjang lebar.

“Maksudmu apa ? aku tak mengerti , apakah kamu ingin pergi meninggalkanku?” Tanyaku yang maasih tak mengerti maksudnya berkata seperti itu dengan suara yang terseduh.

“Maafkan aku, aku tidak pernah jujur kepadamu tentang ini. Sebenarnya aku mengidap penyakit leokimia dan harus pergi berobat di Singapore, dan mungkin aku akan tinggal di sana selamanya.” Jawabnya yang mulai mengeluarkan air mata pula.

Aku menangis dan tak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi, aku hanya tertunduk dan meneteskan begitu banyak air yang membasahi pipiku. Disitulah terakhir aku melihat wajahnya dan mendengar suaranya. Tak pernah ada sedikit pun kontak antara kami berdua. Kepergiannya yang membuatku rindu hingga saat ini.