THE STORIES OF MY LIFE
Oleh: Putri Ananda A
Aku berawal dari sepasang suami
istri, “Arifin dan Jumriati”. Keluarga yang sederhana, ibu dan bapak yang
memiliki 4 orang anak, aku anak yang terakhir. Kakak laki-laki ku bernama “Heryanto
A” kakak perempuanku bernama “Heryanti A dan Handayani A”. Dan kenalin nama aku “Putri
Ananda A”. Aku lahir di Makassar, tepat tanggal 14 mei 1996 jam 10 pagi
menjelang siang .
DULU …
Di Umur 1 Tahunku
Aku menangis ketika aku di suruh
makan bubur /pisang susu yang sudah lembek. Aku malah masih ingin untuk minum
ASI. Aneh, seharusnya aku sudah harus mulai memakan-makanan seperti bubur atau
pisang itu tapi malah aku masih menolak dan ingin minum asi saja parahnya
supaya aku berhenti meminum asi dan mencoba makan bubur, ibu menaruh sesuatu
yang sangat pahit di tempat keluarnya asi itu. Ibu jahat, padahal aku sangat
ingin minum asi dan rasanya sangat pahit yang membuatku tidak ingin minum asi
lagi.
Di Umur 4 Tahunku
Saat itu aku tinggal di sebuah rumah
yang letaknya terpencil, masuk lorong-lorong dan daerahnya rawan banjir.
Jalanannya punjuga tidak rata, hanya batu-batu sebagai penyangga agar jalanan
itu tidak roboh dan keluar ke jalan poros juga pakai jembatan yang di buat dari
kayu yang sudah mulai roboh sedikit demi sedikit.
Hari itu tepat tanggal lahirku ke 4
tahun , seingatku setiap aku ulang tahun tidak ada yang pernah di rayakan, tapi
aku lihat sebuah kue tar yang ada di dapur setelah pulang dari bermain di dekat
rumah. Aku bingung dan tidak tau kalau hari itu hari lahirku. Bapak pulang dan
aku semakin bingung , aku melihat sebuah bungkusan yang berwarna pink namun
masih samar. Setelah magrib semuanya ternyata rapih di ruang tamu. Sungguh
bingung, hanya keluargaku yang ada, bapak ibu dan ketiga kakakku. Lalu aku bertanya,
“untuk siapa ini?”, mereka menjawab
kalau semua ini untukku. Dan pertanyaan bodohku terucap, “apa aku berulang tahun hari ini?”.
Kakiku Panas
Hari
itu siang, aku, bapak, dan ibu baru saja pulang dari sebuah acara dan tadinya
aku ngotot ikut. Jadi aku ikut dengan mereka. Setelah pulang, aku dengan
cerobohnya turun dari motor butut bapak yang knalpotnya masih sangat panas.
Betisku yang kecil dan pendek itu mulai menyentuh knalpot motor butut bapak,
rasanya panas tapi sudah terasa lengket di knalpot itu, aku tak berani teriak
aku takut di marahi, mungkin hanya satu menit lebih parah. Rasanya perih,
panas, sakit, dan terbakar. Aku menangis tidak dapat menahan sakitnya. Bapak
menggendongku masuk dan aku lihat betis kecilku yang imut ituj ternyata melepuh
dan berwarna coklat gosong. Aku hanya bisa menangis dan tak lama tertidur.
Hari Pertama Sekolah Di SD
Hari pertama itu, aku di damping
dengan Ibu, melihat suasansa sekolah (SD) sangat ramai dan itu awal aku
beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Awalnya aku takut, takut karena banyak
orang, dan tak ada satupun yang ku kenal. Aku datang lebih awal di banding
semuanya dan aku dapat bangku di pojok depan. Orang-orang seperti ku sudah
mulai datang satu per satu, banyak dan mulai semakin banyak. Seorang anak murid
baru yang seperti ku juga yang sepertinya anak guru itu mengambil tempat
dudukku, dan terpaksa aku pindah di bangku ke empat yang paling belakang. Aku
kesal, aku sudah capek-capek datang pagi untuk mengambil bangku itu, tapi malah
ujung-ujungnya tetap saja duduk di bangku yang di belakang itu.
Masa SD Itu Suram
Saat masih pertama sekolah, aku
berfikir untuk punya teman itu akan lebih baik, tapi setelah aku jalani
semuanya tidak ada yang baik melainkan hanya sebuah problem yang datang satu
persatu kepadaku. Tidak cukup baik, apa lagi ketika aku mulai mengikuti les di
guru matematika ku yang juga sekaligus walikelasku. Awalnya baik tapi ketika
aku tidak mengikuti mau/keinginan temanku semuanya menjadi kacau dan berubah
menjadi sebuah problem yang cukup besar padahal itu hanya masalah sepele yang
di besar besarkan. Satu dari mereka menghasut semua teman kelasku hingga aku di
musuhi oleh semuanya, semua teman kelasku. Hanya ada satu teman ku yang tidak
pernah menjauhiku. Aku selalu bersama dia. Namun ketika jam istirahat dia biasa
pergi karena aku lebih memilih duduk diam termangu di dalam kelas dibandingkan
jika aku keluar dari kelas. Semuanya suram, aku seperti tidak ada dan tidak
terhitung dalam kelasku. Aku seperti anak cacat yang tidak berguna. MASA SD ITU
SURAM BAGIKU.
Sekolah Baru (SMP)
Rasanya tenang, senang ketika aku
merasa bebas dari masa SD yang suram dan tanpa warna sedikit pun aku mulai
bersenang-senang dengan suasana SMP rasanya tenang. Aku fikir ini memang awal
dari kita beradaptasi dengan dunia dan lingkungan yang baru seperti ini.
Teman-temannya ramah, mungkin karena maksudnya sama dengan ku, saling senyum
dan menjadi teman. Aku sadar kalau SMP itu seru, asik dan mengesankan. Sekolah
baruku tenang tidak rusuh seperti SD. Sekolah baruku asik, punya teman seperti
Anhy, Nurul, Unhy, Enhy dan teman teman lainnya.
Awal Aku Pacaran
Awalnya ketika itu aku masih berumur
13 tahun, masih duduk di bangku SMP kelas 2. Saat itu teman-teman ku baru lagi
dan kami masih seperti baru masuk sekolah lagi karena kelasnya di roling. Aku lumanya akrab dengan Mulky
teman sekelasku waktu itu yang mungkin sifat dan sikapnya belum terlalu ku
kenal. Tapi aku tau satuhal dia pintar, dan asik di ajak ngobrol. Tapi dia
mengatakan cinta, aku tidak tau mau jawab apa, aku belum pernah merasakan yang
seperti itu dan tidak tau harus bagaimana ketika di tanya begitu. Aku bingung
dan satu-satunya pilihanku hanya bisa meminta tolong pada Anhy, Nurul, dan
Enhy, Mau bertanya sama Unhy kami berbeda kelas. Jadi hanya mereka saja.
Jawaban mereka Cuma satu bilang ‘iya’,
Yah sudah aku bilang saja ‘iya’. Dan
katanya kami sudah pacaran. Sungguh mudah untuk berpacaran yah. Aku kira sulit,
ternyata hanya kata-kata.
Harus Pisah !
Aku menjalani masa SMP ku sudah 3
tahun dengan tawa dan canda mereka dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat
hingga kami harus berpisah dan mencari masing-masing karakter kami. Yang tepat
untuk kami melanjutkan sekolah nanti untuk menuju ke Sekolah Menengah keAtas
(SMA). Rasnya berat ketika mengingat masa SMP ku yang seru-seru. Apalagi saat
setelah ujian tengah semester. Kami sangat santai dan mulai bermain-main dengan
semuanya, sudah tidak memperhatikan pelajaran dan sangat bermain-main. Ketika
hujan, saat itu kami bermain dengan sangat GILA. Mengambil ember-ember para
tukang dulu yang pernah bekerja di sekolah kami. Embernya masih kotor dan di
penuhi dengan semen-semen yang sudah mengering di ember itu. Kelas saat itu
tidak ada karena masih di kerja, terpaksa kami mengungsi ke perpustakaan. Tidak
ada guru yang mengajar saat jam terakhir itu. Semuanya berkeliaran hingga hujan
turun dan satu per satu masuk kelas dengan gaya yang basah mulai membuat licin
lantai dan pasir/tanah dari sepatu mereka mulai membuat becek dalam ruangan.
Tak selang beberapa lama ember-ember itu mulai berisi air dan mulai saling
menyiram satu sama lain dan membuat airnya mebasahi seluruh tubuh mereka, dan
aku pun termasuk. Buku-buku dalam perpustakaan mulai jatuh dan basah karena
laintainya juga basah dan becek. Penjaga perpus juga tidak ada. Dan kami bebas,
kebodohan kami dan kesenangan kami malah membuat kami hamper saja kena hukum.
Tapi ternyata tidak jadi. Dan itu kebersamaan kami yang paling susah ku
lupakan.
♥28.06.11
♥
Aku punya sahabat namanya ALIM dia
sekolah di SMPN 23 Makassar, aku sudah bersahabat dengan dia selama 1 tahun
pernah pacaran tapi cuma beberapa bulan dan berlanjut lagi jadi sahabat. Tidak
tahu bagaimana cara kami ketemu lagi, tapi pernah lost kontak beberapa bulan
dan kembali lagi dengan kabar yang masing-masing punya jalan sendiri. Sebenarya
sih cemburu ketika dengar dia punya pacar, tapi aku sendiri saja juga sudah
punya pacar jadi untuk apa cemburu, aku selalu berfikir begitu. Hingga perlahan
rasanya tidak ada cemburu dan tidak suka, tapi sayang sebagai sahabat.
Perlahan kami sering sms-an dia
mulai perhatian, rasanya senang, tapi tidak senang-senang amat sih karena aku
sering berfikir dia itu bukan siapa-siapa dan dia juga punya pacar. Waktu itu
aku berfikir apa yang aku rasa? Apa arti cemburu itu? Apa memang aku sayang dia
lebih, atau cuma sebagai sahabat? Bingung dengan itu. Tapi perlahan juga aku
mulai mengetes dia, katanya sih dia sayang dan suka aku, tapi ada rasa tidak
percaya. Jadi coba buat tes dia dan melihat apa dia menunggu ku atau tidak. Menunggu
ketika aku punya pacar, menunggu ketika aku sedang focus dengan pelajaran. Dia
tetap menunggu dan buat aku juga suka. Suka ketika dia menunggu ku karena itu
bukti kalau dia memang benar suka dan sayang.
Tepat tanggal 28 Juni 2011, mungkin
sekitar jam 8-9 dia datang ke depan rumah, saat itu aku sengaja untuk pasang
muka bad mood tapi dia tetap
tersenyum dan coba untuk membuat ku tertawa. Aku sangat ingat saat itu, dan
sebenarnya aku tertawa keras dalam hati ketika aku marah dan menyuruhnya
pulang, itu lucu. Sebenarnya aku tau maksudnya dia datang ke rumah, tapi untuk
meyakinkan aku bertanya, “tujuannya apa
datang ke sini?” dia mulai jawab, tapi katanya susah untuk di ucapkan
(syahdu banget sih:D). Tapi aku mulai marah betul sama dia, padahalkan untuk pacaran
itu sangat mudah hanya dengan kata-kata sudah punya status pacaran deh. Jadi
tidak lama dia bilang tentang perasaannya, responku hanya ketawa dan bilang “iya” seperti saat pacaran pertamaku.
Dan aku suka itu ketika aku pacaran dengan dia.
Sahabat Ku TAMI
Aku mulai tidak tahan dan menangis
sederas hujan biasanya, rasanya sakit apa lagi ketika tau kalau penyebabnya
orang yang juga ku anggap sahabat itu, namanya tidak usah di sebutin deh. Aku
susah untuk diam saja dan tidak berbagi cerita karena rasanya sangat dan lebih
sakit ketika kita pendam. Aku berjalan dengan raut wajah yang kusut dan mata
yang memerah karna tangisku menuju ke rumah sahabat terbaikku TAMI. Aku mulai
masuk dan masuk lagi ke kamarnya melepas semua kekesalan dan amarahku di situ,
melepas semua beban ku dengan meceritakan semuanya dengan Tami. Rasanya sangat
sakit, dan sangat sakit padahal aku tak pernah merasakan sakit seperti ini,
tapi aku senang juga bisa menumpah kekesalan ku dengan orang yang benar. Cuma
Tami yang bisa menenangkanku sedikit demi sedikit. Ketika aku menangis diapun juga
ikut dan megerti apa yang ku rasa. Dan aku beruntung punya TAMI J makasih NengKu J
SEKARANG…
Hari ini aku tenang, senang dan
bahagia punya orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku, sangat bermakna
dalam hari-hariku. Aku senang punya kedua ORANG TUA yang sangat mengerti aku,
bisa hidup dengan sifat egoku yang begitu tinggi, yang terkadang tidak
mendengar katanya, tapi setiap kataku harus untuk dia dengar. Aku tenang ketika
bapak sudah mulai mengetahui apa yang ku mau, dan ibu sudah sangat tau tentang
sikap ku yang membuatnnya semakin tegar menghadapi kenakalanku yang masih bisa
bapak dan ibu tangani.
Aku senang ketika tau kalau ada yang
mengerti aku seperti orang tuaku yang mengerti aku saat ini. Mengerti tentang
apa yang ku mau, mengerti tentang apa yang harus ku benarkan dan harus ku
pertahankan. Aku senang punya sahabat seperti TAMI yang tidak pernah absen
untuk ada di sampingku ketika aku senang apalagi ketika aku sedih. Aku tenang
NengTami yang mengerti aku luar dan dalam seperti ibu dan bapak mengerti aku.
Aku senang punya pacar yang paling
lama ku jalani selama 4 bulan lebih, dan sangat serius mejalani hubungan ini. Mungkin
usia hubunganku masih sangat kecil, tapi aku akan berusaha membuat usianya
menjadi lebih dari umurku dan umurnya. Dan maksud ku yang misahin bukan problem
tapi, usia(maut). Aku mau cinta yang terakhir bersamanya, aku mau sayang yang
terakhir cuma untuknya. Aku senang punya ALIM yang bisa mengerti aku juga, yang
bisa membuatku tenang di sisinya. Dan aku harap ketenangan itu bisa bertahan
hingga kematian itu datang.
Dan aku senang bisa kenal kalian
semua, bisa tau tentang kisah-kisah dari hidup ku.