putry ananda

putry ananda

Selasa, 02 November 2010

CERPEN "ARTI SAHABAT SEJATI”

“ARTI SAHABAT
SEJATI”

Suatu hari ada 4 anak SMU dibelakang sekolahnya, SMU Merah Putih, tepatnya di bawah pohon yang sangat besar. Mereka berempat duduk di bawah pohon itu. Empat siswi SMU itu adalah Airlyn, Siska, Vivi, dan Eki.
Airlyn adalah cewek yang sulit untuk mempercayai seseorang, tapi dia adalah cewek yang tegas. Siska adalah cewek sangat cepat percaya dengan seseorang, tapi sulit untuk mendengar perkataan orang lain yang bertentangan dengan dirinya. Vivi adalah cewek yang selalu mengingatkan seseorang, tapi dia juga sangat ceroboh. Eki adalah cewek yang
“Lyn, Vi, Ki, aku mau kita berempat menjadi seorang sahabat sejati yang tak akan pernah di pisahkan dengan siapa pun atau apa pun. Kalian mau nggak?,” kata Siska yang dengan seriusnya.
“OK. aku mau kok. Tapi, kita harus buat perjanjian dulu sebelum yang nggak kita inginkan terjadi,” Jawab Airlyn
“kamu mau buat janji apa sih, lyn?,” tanya Vivi.
“Ya janji persahabatanlah!,” jawab Airlyn sambil menuliskan janjinya. Setelah menulis janjinya, mereka pun berkata “KAMI BERJANJI KALAU SALAH SATU DARI KAMI BERKHIANAT, MAUT AKAN DATANG MENCABUT NYAWA KAMI SEMUA!”. Mereka semua pun setujuh atas perjanjian mereka.
Tidak lama kemudian Vivi mau makan-makanan ringan (cemilan). ”Ada yang mau menemani aku nggak ke toko depan gerbang sekolah? Aku mau ngemil nih,” kata Vivi.
“Aku ikut Vi!.” Jawab Eki.
Mereka pun pergi ke mini market yang tak jauh dari gebang sekolahnya. Sesampainya di depan gerbang sekolah Eki tidak mau menyebrang kerena banyak lelaki yang sering menggoda Eki. Tapi Vivi tetap saja untuk membujuk Eki untuk menyebrang sampai ke mini market tersebut. Vivi pun menyebrang sambil membalik badan kearah Eki, dan berkata, ”Ayo donk Ki, Ayo, nggak ada orang kok. Ayo donk,”. Dan tanpa Vivi sadari ada mobil yang sangat kencang dari arah samping kiri Vivi. Eki melihat sepintas dan cepat-cepat mendorong Vivi hingga terlempar ketempat yang bisa menyelamatkan Vivi. Tapi mungkin Eki kurang beruntung karena ia yang menyelamatkan nyawa Vivi malah ia yang di tabrak oleh mobil itu. Vivi kaget, mengapa Eki mendorongnya, ia pun melihat seorang sahabatnya tertabrak mobil. Tapi mobil yang menabrak Eki langsung pergi dengan cepatnya hingga Vivi tak menyadarinya. Vivi pun membalik ke arah Eki dan melihat seorang sahabatnya tertabrak mobil. Lelaki-lelaki yang ada didepan toko tersebut pergi menolong Eki.
Airlyn dan Sisika merasa sesuatu yang tidak enak, dan langsung lari pergi menuju toko tersebut. Mereka berdua melihat dijalan ada keramaian dan dibalik itu semua ada dua sahabatnya yang satu kecelakaan dan yang satu lagi menangis melihat sahabatnya terbaring lemah dengan luka yang begitu parah diatas aspal jalan. Airlyn dan Sisika pun kaget melihat itu semua, dan berkata, “Vivi, Eki……!!!!”. Vivi membalik kearah mereka berdua dan kembali meratapi Eki sambil menangis. Air mata Airlyn dan Sisika pun keluar. Airlyn pun langsung mengambil tindakan yang bijak, dan berkata, “Cepat selamatkan Eki, kita bawa ke Rumah Sakit!”, beberapa orang yang berkumpul pun membawa Eki ke rumah sakit, termasuk Airlyn, Vivi, dan Sisika.
Sampai di rumah sakit Airlyn bertanya kepada Vivi, “Vi, Eki kenapa celaka seperti itu?”.
“Dia mau nyelamatin aku dari mobil yang mau menabrak aku”, jawab Vivi sambil menangis.
Tapi Siska mau kalau Vivi itu menjelaskan dari awal sampai Akhirnya. Dan Vivi pun menjelaskan mengapa Eki bisa kecelakaan seperti itu. Sesudah menceritakan semuanya, tidak lama kemudian datanglah kedua orang tua Eki dan dokter yang menangani Eki pun juga keluar dari ruangan Eki. dan memberi kabar kalau Eki sudah tak bernyawa sebelum dibawa ke rumah sakit, dan kemungkinan besar sewaktu di tabrak nyawanya pun juga berhembus disitu. Tangisan membawa mereka ke tempat itu.
Untung saja orang tua Eki tidak marah kepada mereka bertiga walaupun ia tahu penyebab kematian Eki. Dan orang tuanya pula mengikhlaskan kepergian Eki.


3 BULAN SETELAH EKI MENINGGALKAN MEREKA SEMUA…
Hari ini hujan turun dengan derasnya. Tapi Airlyn, Sisika dan Vivi sedang merencanakan sesuatu. Hari ini adalah hari ulang tahun Eki dan mereka ingin pergi ke belakang sekolah untuk mengenang sahabatnya Eki. Mereka bertiga pun diam-diam berlarian menuju kebelakang sekolah, tapi sampai disana pintu pagar belakang sekolah tergembok karena, hujan sangat deras. Mereka bertiga pun kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran terakhirnya.
Keesokan harinya Airlyn tidak masuk sekolah karena sakit gara-gara kemarin main hujan-hujnan. Jadi yang ke belakang sekolah hanya Siska dan Vivi saja. Jam istirahat hujan sedikit meredah. Siska dan Vivi pun tidak mau membuang buang waktu, mereka langsung berlari pergi kebelakang sekolah tanpa fikir lama. dan kepergiannya pula tidak sia-sia, pintu pagar disana tidak tergembok. Mereka pun langsung masuk dan duduk mengenang Eki. Tidak lama Hujan pun langsung datang dengan tiba-tiba, Siska langsung dengan secepatnya memanjat ke pohon dan Vivi juga ikut memanjat ke pohon. Mereka berdua memanjat sampai ke dahan yang paling tinggi. Tak lama mereka berdua ada di pohon itu, bel yang menandakan waktu istirahat habis pun berbunyi. Siska dengan cepatnya turun ke bawah tanpa memperhatikan keselamatan-nya.
Vivi yang mengikuti Siska dari belakang pun berkata, “Hati-hati Sis, nanti kamu bisa jatuh loh!” .
“Tenang aja aku bisa jaga diri kok,”. Jawab Siska dengan angkuhnya.
Dahan pohon itu pun semakin licin hingga Siska terpeleset dan hampir jatuh, tapi untung saja Siska bisa memegang dahan pohon tersebut, dan Vivi langsung saja memegang tangan Siska dan menariknya dengan sekuat tenaga hingga selamat. Tapi sayang Vivi yang menyelamatkan Siska langsung terpeleset dan jatuh, kepalanya pun terbentur diatas batu yang sangat keras. Dan tak bisa di selamatkan lagi. Siska melihat Vivi dari atas pohon tergeletak dengan luka yang sangat parah. Ia pun turun kebawah dengan hati-hati dan cepat-cepat berlari ke kelas untuk memberitahukan kalau Vivi jatuh dari pohon.
Siska, teman-temannya, dan beberapa guru berkumpul di belakang sekolah melihat Vivi yang tergeletak dengan kepala bocor akibat terbentur dengan batu. Siska pun tidak lupa untuk menelepon Airlyn dan memberitahukan kalau Vivi jatuh dari pohon,
“Halo, Airlyn, Vivi kecelakaan ia jatuh dari pohon, kamu ke sekolah yah…..” kata Siska dalam telepon sambil menangis.
“Aduh bagaimana yah, aku masih sakit dan aku nggak bisa kemana-mana. Apa lagi demam-ku makin tinggi, kamu aja yah yang atasi semua, kamu bawa dia ke rumah sakit.” Kata Airlyn panik.
“Ya udah, kamu cepat sembuh yah.” Siska mematikan Hand Pone-nya.
Siska membawa Vivi ke rumah sakit, tapi kata dokter yang menangani Vivi bilang kalau Vivi sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Siska pun mengeluarkan kata-kata yang tidak sadar ia ucapkan, “kok, kata dokter ini sama saja dengan kata dokter yang waktu itu menangani Eki.”


7 BULAN SETELAH VIVI MENINGGAL…

10 Bulan setelah kejadian kematian Vivi. Airlyn dan Siska merasa sedikit lebih tenang karena, mereka berdua bisa sedikit melupakan kejadian itu, walaupun masih sedikit terpukul.
Malam hari Airlyn pergi mencari hiburan malam yang cukup jauh dari komplek rumah Airlyn, dan tempatnya pula sangat seram, apa lagi perjalanan menuju tempat hiburan itu sangat sunyi dan gelap. Sampai di sana Airlyn tidak sadar bahwa ia banyak meminum minuman yang beralkohol. Waktu untuk pulang pun tiba Airlyn pulang dengan sendirinya. Perjalanan pulang Airlyn sedikit mabuk dan ia tidak tahu kalau ada mobil di arah yang berlawanan. Dan tidak sengaja Airlyn langsung menabrak mobil itu. Walaupun Airlyn Cuma lecet sedikit ia langsung mengabarkan sahabatnya, Siska. Dan menyuruh-nya untuk pergi ke tempat kejadian untuk memberinya tumpangan pulang.
“Halo, Siska, kamu jemput aku di tempat hiburan yang kemari aku bilang yah!,” kata Airlyn dalam telepon.
“Memangnya mobil kamu kenapa sih?.....” jawab Siska bingung.
“Aku kecelakaan waktu mau pulang di jalan,” kata Airlyn.
“Yah sudah, tempatnya dimana?,” tanya Siska.
“Kamu jalan pergi aja ke tempat hiburan Aku, nah jembatan ke dua pembelokan pertama kamu lihat deh ada kecelakaan…. OK.” kata Airlyn menjelaskan.
“OK. Tunggu aku di sana!” kata Siska yang diakhiri dengan menutup telepon-nya.
Siska bingung dengan mobilnya karena lampu mobil Siska rusak dan enggak bisa di nyalakan. Dia pun pergi tanpa memikirkan keselamatan-nya dan berfikir Airlyn adalah satu-satunya sahabatnya.
Perjalanan yang akan ditempuh Siska adalah perjalanan yang cukup jauh apalagi setelah memasuki jembatan pertama tempatnya begitu sepi dan gelap. Siska pun sampai di jembatan pertama, perasaannya tidak begitu enak dan dia ke pikiran Eki dan Vivi terus dan merasa rindu dengan Eki dan Vivi. Selama perjalanan pun Siska merasa pusing dan penglihatan-nya juga tidak terlalu jelas apa lagi ditambah dengan lampu mobilnya yang tidak mau menyala. Perjalanan untuk pergi ke jembatan ke dua masih sangat jauh dan jalanan pun berbelok-belok. Pembelokan ke empat pun ia jalani pembelokan ke lima hampir ia tempuh tapi sayang waktu ingin membelok ada mobil truk dari arah berlawanan yang menabrak Siska tabrakan-nya begitu parah, tapi mobil truk besar yang menabrak Siska langsung pergi tanpa ada orang yang lihat karena tempatnya sangat sepi. Sebenarnya Siska masih bisa di selamatkan, tapi tak ada orang yang melihat kejadian itu dan tak ada orang yang menyelamatkan Siska.
Airlyn masih menunggu Siska, tapi sudah sangat lama Airlyn menunggu Siska dan memutuskan untuk pulang sendiri. Selama perjalanan perasaan Airlyn sangat tidak enak. Di jalan ia terus berfikir mengapa Siska tidak pergi untuk menjemput dirinya padahal kan dia sudah memberi kabar Siska, tapi mengapa ia tak ada sampai Airlyn lelah menunggunya.
Tak lama kemudian Airlyn melihat mobil Xenia hitam dengan nomor polisi B 1225 FN. Tanpa pikir lama Airlyn langsung turun dan melihat siapa yang ada di dalamnya. Pastinya Siska karena mobil itu adalah milik Siska. Airlyn melihat Siska dengan berlumuran darah. Airlyn mengangkat Siska dan membawanya ke Rumah Sakit. Seperti kata dokter yang biasanya menangani dulu dua sahabatnya,
“Siska sudah tidak bisa di selamatkan lagi karena dia sudah meninggal di tempat kejadian tersebut”. Airlyn menangis tanpa hentinya ia merasa secepat itu kah ketiga sahabatnya yang baru saja ia temui meninggalkan dirinya sendiri.


2 BULAN SETELAH SISKA MENINGGAL…

Di rumah Airlyn, tepatnya di ruang keluarga Airlyn dan seorang Ibundanya sedang berbicara dengan seriusnya.
“Sungguh aku tak percaya bun, persahabatan yang baru saja kami bangun pergi meninggalkan aku sendirian.” Kata Airlyn kepada sang Ibunda sambil tidur di pangkuannya.
“Airlyn memang itu semua menyedihkan dan membuat dirimu sakit, Tapi cobalah untuk mengikhlaskan ketiga sahabat kamu itu, karena itu semua akan membuat mereka yang ada di alam sana tidak bisa tenang.” Jelas Ibunda Airlyn.
“Bun, setiap sahabat pergi bersama -sama, dan tujuan yang sama, tapi satu sahabat tidak di izinkan untuk pergi mengikuti sahabatnya yang lain,” Airlyn mengubah posisinya menjadi duduk dan berhadapan dengan Ibundanya. “Apa sahabat yang satu itu harus mengusahakan semuanya?” kata Airlyn sangat serius.
“Iya. Karena itu tanda sayang dan kesetia kawanan seorang sahabat. Tapi kenapa kamu tanya begitu?”
Airlyn belum menjawab pertanyaan Bundanya tapi, ia langsung pergi berlari ke kamarnya dengan ucapan “Makasih ya, Bun!”
Airlyn memasuki kamarnya dan menuliskan buku diary-nya;
7 Nopember 2007
Hari ini adalah hari terakhirku untuk menulis sebuah buku harian. Aku tahu semua kematian sahabatku adalah salahku karena aku sungguh tidak percaya dengan mereka saat aku pertama bertemu dengan mereka. Aku menyuruh mereka untuk berjanji kepadaku bahwa “KAMI BERJANJI KALAU SALAH SATU DARI KAMI BERKHIANAT, MAUT AKAN DATANG MENCABUT NYAWA KAMI SEMUA!.” Itu adalah kesalahan terbesarku. Kupikir sumpah yang ku buat itu hanyalah kebohongan. Tapi ternyata maut mendengarkan sumpah kami, ia menantang sumpah kami dan membuat maut kepada kita semua. Kematian mendatangi kami semua dan menghantui kami selalu.


Airlyn pergi membereskan semua kenangannya bersama ketiga sahabatnya dan memasukkannya ke dalam kardus. Ia pun cepat-cepat untuk pergi ke rumah sahabat kecilnya di perumahan gunung sari. Namanya Risma. Ia pergi dengan naik kendaraan taksi dengan membawa sejumlah barang-barang kenangannya dengan sahabatnya Eki, Vivi, dan Siska.
Airlyn menceritakan semua yang terjadi pada ketiga sahabatnya, dan menceritakan apa yang di katakan Bundanya tadi.
“Ris, aku sangat percaya sama kamu dan aku enggak mau kamu menodai rasa kepercayaan aku itu. Hmm…… ini barang-barang kenangan aku sama ketiga sahabatku itu. Aku titip sama kamu yah. Tolong kamu jaga baik-baik!.” Kata Airlyn dengan sedikit pelan.
“Memangnya kamu mau kemana sih?” Tanya Risma
“Aku mau ikut sama mereka bertiga. Kata Bunda kan sahabat yang setia itu harus ikut ke sahabat lainnya.”
“Memang sih, tapi kalau……….” Suara Risma terputus karena di potong dengan suara Airlyn.
“Ssst. Kamu enggak perlu lanjautin apa yang kamu mau bilang. Aku udah tau kok. Kamu enggak usah urusan apa yang aku lakukan. Aku pulang dulu yah.”
Malam sesudah Airlyn bilang kalau dia mau pergi mengikuti ketiga sahabatnya. Di belakang sekolah tepatnya di bawah pohon besar yang menjadi saksi persahabatan mereka dengan ketiga sahabatnya, Eki Vivi, dan Siska. Dan Airlyn ada di sana berdiri tegak sambil memegang pistol yang menodong kearah kepalanya sendiri. Disana sangat sepi dan tak ada suara yang terdengar. Dan Airlyn membunuh dirinya sendiri. “DOOR” Itu suara yang terdengar dan membuat Airlyn kehilangan nyawanya.
Keesokan harinya orang tua Arlyn mencari Airlyn kerumah teman dekatnya ‘Risma’.
“Risma, kemarin Airlyn kesini kan? Apa dia menginap di rumah kamu?” Tanya Bunda Airlyn.
“Dia enggak menginap tante di rumah saya. Tapi dia bilang kalau dia itu mau ikut sama ketiga sahabatnya.” Jawab Risma.
Tanpa pikir lama Bunda Airlyn langsung pergi ke sekolah untuk melihat kalau putrinya ada disana atau tidak. Suasana di sekolah pun menjadi ricuh dan pemeriksaan di dalam kelas maupun diluar kelas di lakukan. Dan Airlyn ditemukan tewas mengenaskan dengan tangan yang memegang pistol.
Untung saja tak ada yang terlibat dalam kematian Airlyn. Karena semua orang juga tahu kalau Airlyn membunuh dirinya karena tidak bisa menerima kenyataan yang dihadapinya, dan merasa kematian sahabatnya karena dia dan sumpah yang ia buat satu tahun yang lalu.


SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar