putry ananda

putry ananda

Selasa, 02 November 2010

SI PENDIAM ‘RANGGA’

SI PENDIAM
‘RANGGA’

Aku anak baru di sekolah ini, SMA , tapi aku sudah menduduki bangku di kelas 3 dan ditempatkan dikelas XII ipa 3. Walau aku terbilang masih baru di sekolah ini tapi aku sudah bisa merasakan kenyamanan bersekolah ditempat ini. Teman-teman disini sangat ramah dan sangat asyik kuajak tertawa bersama dengan berbagai macam cerita-cerita dari aku dan teman-teman lain.

Tapi setiap aku sampai kesekolah hanya ada seorang yang sangat menyita perhatianku, membuat aku sangat ingin mengetahui “Siapa Gerangan?”. Karena rasa ingin tahu sangat besar aku mencoba melihatnya lebih dekat. Aku melihat paras wajahnya yang sangat indah, lelaki itu sangat tekun dalam membaca bukunya hingga aku yang berada didekatnya, tidak tahu bahwa aku sangat memperhatikan wajahnya.

“Hey, kamu ketua osis disini ‘kan?” kataku
“Iya, memangnya kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan tentang sekolah ini?”
“Apa kamu tau tentang lelaki yang duduk di pojok sana, lelaki yang membaca buku Ensikopledia itu?”
“Oh, Dia Rangga, Dia sangat pendiam dan selalu jadi juara umum setiap tahun penaikan kelas. Wajahnya memang sangat menyita perhatian para wanita disekolahan ini. Tapi dia terkesan seperti orang gila yang tidak mau bergabung dengan orang-orang disekitarnya, seperti orang bisu saja. Banyak wanita yang mencoba mendekatinya tapi, hasilnya semua sama, tidak ada yang bisa mencuri hati Rangga. Dia akan berbicara jika itu memang penting. Tapi jika kamu hanya mau berkenalan dengan dia saja, jangan harap dia akan mengeluarkan kata sedikitpun.” Kata ketua OSIS disekolahku. Aku tetap memperhatikan gerak-geriknya tapi tetap mendengarkan kata ketua OSIS itu, setelah dia panjang lebar menjelaskan tentang Rangga aku langsung pergi dan keluar dari perpustakaan sekolah. Aku masuk kekelas dan memikirkan informasi tentang Lelaki Pendiam itu, namanya Rangga, wajahnya sangat menawan dan banyak orang selainku yang juga ingin tau ‘Siapa gerangan’.

Dia anak kelas XII ipa 1, dia anak yang berprestasi di sekolah ini, sangat pendiam dan suka membaca buku Ensiklopedia, dan namanya Rangga. Itu beberapa informasi yang kudapat tentang lelaki pendiam itu. Kelasnya cukup dekat denganku. Kelasku dengan dia hanya berbeda 1 ruangan dengan kelasnya. Aku mulai membaca buku Ensiklopedia juga, seperti apa yang selalu dibaca Rangga. Aku sudah mulai mengikuti apa yang disukai Rangga, mulai dari buku hingga tempat dia sering membaca bukunya.

Aku sering mendengar adik kelasku yang membicarakannya, mungkin dia juga memperhatikan gerak gerik lelaki itu. Kata yang paling sering kudengar dari adik kelasku itu, “Dia mungkin sedikit sters, masa aku yang sudah susah payah menarik perhatianya dan mulai mendekatinya dia pergi begitu saja”

Setelah mendengar beberapa info yang cukup mengecewakan itu aku semakin ingin mengetahui ‘Siapa gerangan’. Aku tetap berusaha mendekatinya tapi aku juga tetap sedikit takut jika dia menjauh dariku dan menganggapku tidak ada. Semakin hari aku semakin penasaran dengan lelaki itu dan ketika aku kedepan ruang kelasnya aku mendengarkan suaranya saat menjawab pertanyaan dari guru Biologi yang mengajarnya saat ini. Aku mendengar suara itu sangat lembut dan membuatku semakin ingin tau mengapa dia tak mau mendekat dengan orang lain sedikit pun.

Suatu saat aku mulai berfikir jika aku memperhatikannya hanya dari jauh saja mungkin aku akan menyesal jika dia sudah tidak ada, karena sebentar lagi kami akan Ujian untuk mengakhiri SMA-ku. Aku mendekatinya dengan memegang buku yang sama dengan dia, aku mulai mendekatinya dengan duduk didekatnya lalu mendekat, mendekat dan mendekat. Hingga aku berani dan mengacungkan tanganku didepannya, lalu berkata “Hai, aku boleh ‘kan mengenal kamu?” Kataku yang sangat gugup seperti berbicara dengan orang yang paling galak sedunia. Aku tidak berharap banyak kalau dia mau memegang tanganku pula aku hanya berharap dia membalas salamku. Aku menghela napas yang panjang dan menhembuskannya ketika dia mengacuhkanku. Tanganku perlahan aku turunkan tapi, tidak kuduga tanganku lalu dipegang dengan lelaki itu, Rangga, dia menatapku aku tak percaya lelaki pendiam sepertinya ternyata baik dan berhasil membuatku kaku dan salah tingkah tidak karuan. Aku pun langsung mengucap kata sedikit demi sedikit, “Hai, Namaku Shinta,” Itu kataku saat dia memegang tanganku pula. “Aku Rangga, kau gemetaran memegangku?”

Karya:
Putri Ananda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar