Jakarta, 6 Agustus 2005, sore…
“My Love Is Forever Love, For You….”
“I Love My First Love….”
“I Love You ‘FIKAR’…. You are My First Love And You are My Forever Love….” Kataku dengan nada keras dan berteriak di sebuah danau, yang katanya danau itu danau jodoh.
Disana hanya terlihat 2 orang anak yang menduduki bangku di kelas 1 SMP 1 anak perempuan dan 1 anak lelaki yang masih memakai seragam putih biru atau seragam SMP saat itu. Aku, dan sahabatku Aiman saja yang ada di sana. Setelah ku ungkapkan isi hatiku, aku terjatuh lemas karena mengingat bahwa cintaku tak pernah terbalas. Air mataku pun berjatuhan.
“Aku Tidak Akan Pernah Mengizinkan Kamu Menangis, Merintih, Terluka, dan Kesakitan.” Kata Aiman memberi aku semangat, “Kamu ingat kata-kata aku itu. Karena aku sayang sama kamu.” Kata Aiman menyambung perkataannya.
Aku hanya berbalik kepadanya dan menghapus air mataku. Ku ambil batu dan berdiri untuk melemparnya ke batu besar yang ada di tengah danau. Kulempar dengan sekuat tenaga. Tapi apa daya memang mungkin Fikar bukan jodohku, batu yang aku lempar melewati batu besar yang ada di tengah danau itu.
Aku ‘Nina Alisya Putri’ sering dipanggil Nina. Aku salah satu siswi di SMA Merah Putih di Jakarta. Dan sekarang aku menduduki bangku di kelas 10.2, aku selalu satu kelas dengan sahabatku, ‘Aiman’.
‘Aiman Putro Negoro’ sering dipanggil Aiman. Dia sahabatku yang paling kusayang begitu juga sebaliknya, dia juga sangat sayang sama aku. Dia juga salah satu siswa di SMA Merah Putih dan sekelas sama aku.
‘A. Muh. Zulfikar’ sering dipanggil Fikar. Dia seorang cinta pertamaku sekaligus cinta sejatiku. Dia juga salah satu siswa di SMA Merah Putih. Tapi dia kelas 12.1, dia pintar ‘kan….. dia bisa masuk kelas 12.1. dia juga teman dekat Aiman sewaktu di SMP sekaligus di sini juga kok. Dan juga aku yang mulai akrab dengan dia.
Jakarta, 6 Agustus 2008…
Hari ini aku, Aiman, dan Fikar ada janji mau pergi ke kantin bareng lagi. Aku, dan Aiman mencarinya di kelasnya. Dan yang kulihat di sana, tangan Fikar dipegang sama kak Inggrid. Hatiku yang pastinya kecewa, aku merasa tak berdaya lagi melihat itu. Tapi Aiman selalu membuatku semangat. “Kamu tidak usah cemburu gituh donk. Itukan kak Inggrid yang megang tangannya Fikar bukan Fikar yang megang tangan kak Inggrid.” Katanya membujukku agar tidak menagis dan sakit hati lagi.
Kantin sekolah
Aku sudah keseringan pergi kekantin bareng Fikar. Dan aku pun sudah sangat akrab dengan dia. Tapi aku tetap saja tidak bisa berharap banyak dengan dia.
“Nin, besok kamu ada acara nggak?” Kata sang pangeran Cintaku ‘Fikar’ yang membuat aku kaget dan berhenti memakan bakso yang sedang kusantap saat itu.
“Nggak memangnya kenapa?”
“Hmm……….. besok sepulang sekolah temui aku di belakang sekolah ya,” Katanya lagi yang membuat aku keget setengah mati.
“Boleh. Memangnya ada apa sih? Tumben banget kamu ngajakin aku ketemuan?”
“Nggak kok, aku cuma mau bilang sesuatu ke kamu”
Aku sangat bingung ada apa dengan sang pangeran cintaku? Kenapa dia bilang itu ke aku? Padahal kahan dia nggak pernah tahu perasaan aku ke dia.
Kamar Tidurku
Hari ini aku ada janji sama Aiman, untuk pergi jalan-jalan sama dia. Habisnya aku sudah lama nggak jalan, karena tugas ku yang bertumpuk semenjak naik ke kelas 10.2.
KRINNGG..kriingg.kriiiiiiiiiiiiiiiiiing…
Hand Phoneku berbunyi dan kulihat dilayarnya bertuliskan “SaHaBaT_Q”, siapa lagi kalau bukan Aiman.
“Halo…….” Salamku membuka pembicaraan.
“Halo Nin, sory yah hari ini aku nggak bisa pergi sama kamu,”Jawabnya.
“Memangnya kenapa sih, Man,?”
“Aku ada acara keluarga hari ini, dan kayaknya nggak bisa kutinggalkan.”
“Oh, nggak apa-apa kok,”Jawabku.
“Bagaimana kalau minggu depan aja?” Ajaknya
“Hm……. OK. Tapi, kenapa nggak besok saja?”
“Aduh, sahabatku ini nggak ingat ya perkataan Fikar tadi di kantin,” Katanya mengingatkan ku.
“Oh iya. Tapi ‘kan……,” Suaraku terputus karena dan dilanjutkan dengan suara Aiman.
“Kalau besoknya lagi dan sampai hari senin, aku mau urusin adik aku yang mau pindah sekolah.” Lanjutnya setelah memotong pembicaraanku. “kalau hari selasa aku mau istirahat. Kamu nggak maukan melihat sahabat kamu jatuh sakit?” Sambungnya lagi dengan nada mengancam.
“Ya nggak ‘lah, aku kan mau melihat kamu happy-happy aja. nggak kayak aku yang penyakitan.” Kataku dengan nada sedikit kecewa saat mengatakan kalau aku penyakitan.
“Nin, kamu jangan ngomong sembarangan!!!!!” Katanya dengan nada sedikit marah.
“Man, kamu tau kan penyakit aku itu kanker otak dan penyakit itu tidak ada obatnya. Jadi wajar donk kalau aku ngomong kayak gitu,” Kataku menantang.
“Nin, dengar ya apapun penyakit yang kamu derita itu, dan bagaimana pun susahnya penyakit kamu itu sembuh, itu semua akan baik-baik saja sesuai apa yang kita semua inginkan.” Katanya meyakinkanku.
“Udah dulu ya man kayaknya aku dipanggil mama tuh. Tahnk’s ya kamu sudah bikin aku semangat lagi.” Kataku berbohong dan menutup telepon itu tanpa mendengar perkataan Aiman lagi. Setelah menutup telepon aku berbaring dan tertidur.
Ke Esokan Harinya…
Jakarta, 7 Agustus 2008, Sepulang sekolah…
Hari ini aku ada janji dengan Fikar ketemuan di belakang sekolah. Nggak tau deh tuh dia mau ngomongin apa?........
Aku pergi menepati janjiku sama Fikar untuk pergi kebelakang sekolah. Disana aku melihat seorang lelaki memakai seragam yang sama denganku. Siapa lagi sih kalau bukan Fikar, ‘kan dia yang mengajakku ke sana. Aku menepuk bahunya sambil menyebut namanya, “Fikar!!!” ia pun terkaget mungkin dia pikir yang menepuk bahunya itu penjaga sekolah yang sudah cukup tua tapi tua-tua dia sangat galak loh.
“Nina, aku kira siapa,” Katanya terkaget akibat ulahku.
“Sory. Memangnya kenapa sih kamu ajak aku ketemuan disini?” kataku membuka pembicaraan.
“Hmm…….. Aku mau jujur sama kamu……” Jawabnya membuatku penasaran.
“Jujur apa?” Tanyaku dengan tampang penasaran.
“Hmm…….. sebenarnya aku suka sama kamu semenjak kita kenal, dari situ timbul deh perasaan yang berbeda sama kamu. I LOVE YOU.”
“Apa……..!!!! Jangan buat aku ke GR–an donk¬¬¬,”
“Aku serius Nina aku nggak bercanda. Tolong kamu mengerti perasaan aku!”
“Sory. Kalau memang kamu serius, Sebenarnya aku juga suka sama kamu. Kamu itu cinta abadiku.” Aku membuat pernyataan ke dia dengan jujur.
“Jadi kamu mau donk jadi pacarku?” Tanya Fikar dengan nada senang.
“Menurut kamu?” Tanyaku kembali.
“Kalau menurut aku sih, aku sudah resmi jadi pacar kamu, dan kamu juga sudah resmi jadi pacar aku.” Pernyataan Fikar membuat aku merasa lebih,lebih,dan lebih senang.
“Menurut aku juga begitu kok,” Jawabku simple.
Kami pun sudah resmi jadi sepasang kekasih. Tapi kenapa aku merasa tidak percaya Fikar bilang seperti itu, diakan salah satu cowok populer di SMA Merah Putih, dan dia juga dikenal cowok paling jutek di sekolahan. Tapi aku tidak mau terlalu pusing dengan itu semua, kan memang kenyataannya sudah begitu.
Fikar mengajakku pergi jalan-jalan nggak tau kemana. Dan sampailah kami disebuah tempat, yaitu pinggiran jalan yang ada tanah kosongnya dan sepertinya itu sebuah tempat nonkronk anak muda jaman sekarang yang memakai tanah orang lain tanpa minta izin dulu. Disana masih kosong tanpa ada anak muda yang nonkronk di sana. Mobil yang kami kendarai langsung saja di masukkan ketempat itu. Dan diputar balikkan kearah jalan. Aku keluar dari mobil dan berdiri kedepan mobil.
“Fik, tanggal ulang tahun kamu kapan?”
“13 Agustus, kalau kamu?”
“Kalau aku 6 Juli.”
Beberapa pertanyaan ku lontarkan ke dirinya, samapai-sampai tak terasa waktu sudah malaam.Fikar mengantarku pulang kerumah. Dan katanya sih dia mau mengajak aku besok ke tempat yang paling ia sukai.
Aku masuk ke rumah dan menuliskan diaryku.
Jakarta, 7 Agustus 2009
Hy, my diary hari ini adalah hari yang sangat berharga dalam hidupku. Seorang pujaan hati, Cinta pertamaku, dan cinta sejatiku, mengungkapkan isi hatinya ke aku dan bilang kalau dia cinta sama aku. Hari ini adalah hari pertamaku jadian sama Fikar, dan aku sudah nggak sendiri lagi. Pertama sih dia mengajakku pergi ke belakang sekolah, tapi aku tidak tau kalau dia mau bilang dia cinta sama aku. Lalu sampai disana dan dia bilang kalau dia sayang and cinta sama aku, yah sudah aku terima saja dia untuk jadi pacarku, aku sama dia pun resmi jadi sepasang kekasih. Dan besok dia mengajakku ke tempat faforitnya.
Sudah dulu yah my diary, kayaknya sampai disini saja deh curhatanku kali ini dan besok aku mau memberi tahu Aiman sahabat aku yang paling mengerti aku.
Jakarta, 8 Agustus 2008…
Hari ini aku tidak pulang bersama Aiman karena aku dan Fikar akan pergi ke tempat yang ia bilang kemarin ‘Tempat Favoritnya’. Aku senang dia mengajakku kesana. Fikar menjemputku di depan kelasku, kami berdua pun pergi ke tempat parkiran dulu, lalu pergi ke tempat favorit Fikar. Kami pun sampai disana dengan waktu yang cukup lama karena jarak dari sekolah ke sana cukup jauh.
“Nin, ini tempat yang aku bilang kemarin. ‘Tempat Favoritku’, namanya Rumah Makan Underline,” Katanya menjelaskan aku dan memberiku duduk disalah satu bangku, dan menyambungnya lagi, “Semua perasaan aku ku pelampiaskan disini, rasa tangis, sedih, bahagia, dan kecewa selau kurayakan di tempat ini. Dan sekarang aku bahagia bisa pacaran sama kamu. Maka dari itu aku mengajak kamu ke tempat ini,” katanya sambil duduk di bangku hadapanku yang di tengahnya ada meja bundar.
“Thank’s ya sudah mengajak aku ke sini,” Jawabku terima kasih setelah dia menjelaskan semuanya ke aku.
Aku dan Fikar pun memesan makanan yang ada di dalam menu Rumah Makan tersebut. Kami ada di bagian halaman tempat itu. Pepohonan dan bunga-bunga yang ada disana membuat nuansanya menjadi lebih romantis. Hari sudah sore dan waktunya untuk kami pulang. Fikar pun mengantarku pulang kerumah. Saat-saat seperti ini tak akan pernah ku lupakan.
Jakarta, 12 Agustus 2008…
Malam hari di kamarku…
Sudah hampir satu minggu aku berpacaran dengan Fikar, dan besok adalah hari ulang tahun Fikar. Kemarin aku sudah memesan jam tangan itu, dan sekarang aku mau menuliskan surat di kertas yang bergambarkan love itu.
For: My ‘Honey’
From: Nina ‘Your Honey’
Fikar, kaulah yang aku sayangi, dan yang aku cintai ibuku sudah tiada jadi kumohon jangan sakiti aku, dan jangan khianati aku. Karena selain kamu hanya ibuku yang aku cintai, tapi dia sudah tiada. Cintaku ke kamu sudah sangat besar, dan sangat lama aku suka dengan kamu semenjak aku tahu apa arti cinta itu. Dihatiku sudah terukir rapih namamu dan tak ada satu pun orang yang bisa menggantikanmu……… ”FIKAR, I LOVE YOU”
Kertas itu pun kumasukkan kedalam amplop berwarna merah marun. Dan aku pergi ke kasur dan menyelimuti diriku dengan selimut yang ada diatas kasurku itu, dan menutup mata lalu tertidur.
Jakarta, 13 Agustus 2008…
Hari ini adalah hari ulang tahun Fikar, dan aku sengaja tidak memberinya ucapan selamat ulang tahun ke dia. Karena aku ingin memberinya surprice hari ini. Hari ini aku pergi kesekolah bareng Aiman karena Fikar tidak bisa mengantarku ke sekolah, katanya sih dia mau mengantarkan adiknya dulu ke sekolahnya. Aiman menanyakanku soal kepergian kita sebentar siang, sepulang sekolah.
“Nin, kamu jadikan pergi jalan bereng aku, sebentar siang?” Tanyanya membuka pembicaraan.
“Iya, jadi kok. Tapi sekalian ya antar aku ke toko jam tangan yang aku bilang kemarin untuk mengambil hadiah untuk Fikar yang waktu hari senin sudah ku pesan,” kataku.
“Ok Bos. Aku siap mengantarkan tuan putri ini.” Jawab Aiman merayuku.
“Thank’s ya. Kalau gitu sekalian aja, antar aku kerumah Fikar untuk memberinya surprice ke dia dan memberinya kado ulang tahun,”
“OK.” Jawabnya simple.
Aku dan Aiman sampai di sekolah dan pergi ke kelas 10.2. tak lama lonceng berbunyi dan itu tandanya kelas harus memulai mata pelajaran pertama. Semua siswa-siswi masuk kekelas mereka masing-masing. Pelajaran pertama di mulai dan itu pelajaran yang paling aku benci, ‘Fisika’. Pelajaran itu membuatku mengantuk apalagi ditambah dengan gurunya, Pak Rahman yang terkenal guru killer di sekolah kami. Untung saja ulangan dihari ini tidak jadi dilaksanakan, karena dia sedang tidak enak badan, jadi ocehan-ocehan yang mungkin ia mau lontarkan kepada kami ditunda dulu, dia hanya memberi kami tugas.
KRRRRIIIIIIIIINNGG………!!!!!!
Waktu jam istirahat tiba, saat aku keluar dari kelas aku melihat Fikar sedang berlari sambil memegang HP-Nya dengan terburu-buru, samapai-sampai aku yang ia lewati di acuhkan saja dengan dia. Karena rasa penasaran ku timbul aku pun pergi mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Fikar berlari menuju wc laki-laki, dan aku mencoba untuk mendekat di depan pintu WC itu, dan tak sengaja aku mendengar fikar berbicara lewat telepon genggam yang ia gunakan saat itu, dan yang kudengar Fikar berkata, “Iya kita jadi kok pergi ketempat yang ku janjikan ke kamu, tempat favoritku, jam empat sore. Aku jemput di rumahmu ya?” Perkataan Fikar yang berbicara dengan temannya, tak tahu siapa.
Perasaan aku pun sangat tidak enak dan kepalaku pusing, aku berlari meninggalkan tempat itu, aku tidak mau ketahuan oleh Fikar. tak sengaja aku melihat Aiman.
“Aiman!!!!” Teriakku memanggilnya.
“Nina, aku cari deri tadi. Kamu kemana saja sih?” Tanya Aiman.
“Nggak kok aku cuma ke WC sebentar.” Jawabku. “Aiman tempat Favorit Fikar di Rumah Makan Underline kan?” Tanyaku sambil katakutan, dan melirik kebelakang dan samping kiri kananku.
“Iya. Memangnya kamu tidak pernah diajak kesana?” Tanyanya kembali.
“Pernah sih, tapi aku Cuma mau memastikan aja.”
“Kamu kenapa sih?, sakit ya?,” tanyanya sambil memeriksa aku sakit atau tidak. “Duh, Nina, demam kamu tinggi banget sih, aku bawa ke UKS ya,” Katanya khawatir dengan kondisiku saat itu.
“Nggak usah aku juga tidak kenapa-kenapa kok. Kamu nggak usah repot-repot.” Jawabku menolak.
“Tidak kenapa-kenapa bagaimana? Suhu badan kamu itu panas banget,” Katanya dengan nada kesal, “Penyakit kamu kambuh lagi ya?” Lanjutnya dengan nada kecil dan bebisik.
“Nggak kok.” Timpalku dengan nada kesal.
KRRRRINNGG………!!!!!!
Lonceng pun berbunyi, tanda waktu istirahat pun selesai, aku dan Aiman beserta teman-teman lain yang masih ada di kantin cepat-cepat masuk kekelas mereka masing-masing.
Jakarta, 13 Agustus 2008…
Sepulang sekolah, dikamarku…
“Halo, FIkar. Hari ini aku ada janji sama Aiman, ya, jalan-jalan aja kok. Aku memang sudah lama tidak jalan bareng sama Aiman. tidak apa-apa kan?” Kataku saat menelepon Fikar dan minta izin dengan dia, karena dia sudah resmi jadi pacarku.
“Terserah kamu aja Nin, aku sih asyik-asyik aja. Kamu mau pergi sama Aiman atau siapa, aku kan percaya sama kamu.” Katanya yang membuat aku senang.
“kamu tetap dirumahkan hari ini?” Tanyaku.
“Iya, aku tidak kemana-mana kok. Emangnya kanapa?”
“Nggak ada apa-apa kok, aku Cuma nanya. Udah dulu yah.” Aku mematikan teleponku.
Aku bersiap-siap untuk pergi dengan Aiman. Setelah siap aku menunggu diruang bawah karena kamarku ada dilantai atas. Suara klakson mobil Aiman sudah terdengar, dan aku pun keluar lalu masuk ke dalam mobil lalu kami pergi membeli kado ulang tahun dulu untuk Fikar, di toko jam tangan itu, yang dari hari senin sudah ku pesan. Bentuk jam tangannya bulat, yang di dalam kaca jam tangan itu bertuliskan “FN”. Tempat atau kotaknya sudah di sediakan disana, kotak kecil yang isinya jam tangan, lalu kutambahkan di dalam kotaknya dengan surat yang kutulis semalam. Aku dan Aiman pergi mencari kue blackforest di toko kue terdekat. Dan selanjutnya aku pergi ke rumah Fikar untuk memberikannya Surprice.
Sesampainya disana aku hanya mendapat kata-kata yang tidak ingin ku dengar. Kata pembantu rumah tangganya Fikar pergi dengan temannya untuk merayakan ulang tahunnya. Aku pun teringat dengan kata-kata Fikar, bahwa semua perasaan yang ada di dirinya akan dia lampiaskan ditempat favoritnya Rumah Makan Uderline. Dan aku juga ingat saat Fikar menelepon temannya saat di WC laki-laki tadi pagi, tidak tahu temannya itu siapa, tapi dia bilang sih kalau dia jadi mau pergi jam empat sore di tempat faforitnya. Dan sekarang sudah jam setengah lima sore. Aku dan Aiman pun pergi ketempat favorit Fikar di Rumah Makan Underline. Selama perjalanan kepalaku sangat pusing dan mungkin penyakitku kambuh, apalagi cuaca sangat tidak mendukung, hujan sangat deras. Tapi untung saja kami naik mobil, kalau naik motor mungkin kami dari tadi sudah basah-basahan, dan aku pun dari tadi sudah pingsan.
Kami pun sampai di Rumah Makan Underline. Selesai mobil Aiman terparkir aku langsung mengambil payung dan cepat-cepat keluar dari mobil tanpa menunggu-nunggu Aiman lagi, dia langsung saja mengikutiku dari belakang tanpa menggunakan payung lagi, tapi dia tidak sembunyi-sembunyi kok, karena aku tahu dia ada dibelakangku. Tanpa menunggunya aku sudah ada di depan Rumah Makan tersebut. Aku berdiri didepan sana yang dibelakangku ada Aiman. Terlihat seorang wanita dan seorang lelaki yang sedang berciuman. Dan aku tak sangka kalau lelaki itu seorang pacarku, cintaku, dan belahan jiwaku, “FIKAR”, dia berciuman dengan teman sekelasnya, Kak Inggrid, yang sewaktu aku belum pacaran dengan Fikar, dia memegang tangan Fikar. Karena aku sudah tak kuasa manahan tangisku, air mataku pun menglir seperti derasnya hujan di saat itu. Payung yang aku pegang pun jatuh dan juga kue blackforest yang aku pegang juga ikut terjatuh. Tapi tak membuat mereka manghentikan adegan itu, mungkin mereka belum tahu kalau aku dan Aiman ada disana dan melihatnya dengan jelas. Aku pun berteriak kecil dan menyebutkan namanya, “FIKAR” teriak kecilku dengan nada yang mengerucut. Akhirnya adegan itu terselesaikan juga setelah mereka menyadarkan diri kalau aku dan Aiman ada disana dan melihat kejadian tadi. Mungkin Fikar malu, tapi ia menghampiriku, seluruh tubuhku sangat basah tapi, isi tasku mungkin tidak basah kerena tas yang aku pakai kedap air. Fikar menghampiriku tapi aku tak kuasa menahan rasa sakit hatiku yang dihampiri dengan seorang pacar yang berselingkuh samapai-sampai ia berciuman. Aku pun membalik badanku dan berlari dengan kencang. Aku lari dari kenyataan yang telah ditentukan untukku. Aiman mengikutiku dan mencoba mensejajarkan dirinya dengan aku, sampai akhirnya dia lari dengan sangat kencang hingga dia bisa memegang tanganku dan menghentikanku, lalu berkata,
“Nin, kamu masih ingatkan dengan kata-kataku yang sewaktu di SMP kelas satu,” Katanya mengingatkan ku pada masa lalu kami, “Aku Tidak Akan Pernah Mengizinkan Kamu Menagis, Merintih,Terluka, Dan Kesakitan,” Lanjutnya.
“Aku masih ingat dengan kata-kata kamu itu tapi aku sudah tidak bisa tahan rasa kecewaku. Tolong, biarin aku berlari dari semua ini.” Kataku memegang tangannya dan menaruhnya didepan dadanya, dan kusambung, “Aku tahu kamu sayang sama aku, dan tidak rela kalau aku seperti ini, karena aku sahabat kamu dan kamu sahabat aku.” Kataku meyakinkannya. Aku pun berbalik badan dan mengeluarkan tangis yang kutahan tadi, memegang tangannya sekejap yang ada di depan dadanya lalu melepaskannya dan berlari dengan jalan lurus. Tapi aku baru lari sebentar, kakikku sudah tertahan karena perkataan Aiman yang membuatku kaget dan harus menghentakan langkah kakiku,
“Nin, aku sayang sama kamu dan aku cinta sama kamu.” Teriaknya yang membuatku kaget dan menghentikan langkah kakiku. Kepalaku pusing dan penyakitku kambuh, badanku melemas dan aku jatuh pingsan. Aiman kaget melihatku seperti itu, ia pun berlari sambil menyebut namaku, “NINA…..!!!!” Teriaknya mengarah kepadaku. Dia mengangkat kepalaku dan setengah badanku lalu mencoba membangunkanku. Tapi apa daya aku sudah jatuh sakit dan pingsan diatas aspal jalan. Dia pun menggendongku lalu membawaku ke tempat parkiran dimana Aiman memarkir mobilnya lalu memasukkanku kedalam mobil.
Ditempat lain, Fikar menyesal melakukan perbutan itu semua, dia melampiaskan kemarahannya ke orang yang dia anggap salah yaitu Kak Inggrid. Dia memaki-maki Kak Inggrid dan berkata, “Inggrid, kamu keterlaluan tau nggak…….!!!!!, Gila ya kamu, pakai ajak-ajak aku melakukan hal yang tadi lagi.” Kata Fikar memaki Kak Inggrid dengan nada yang sangat kasar.
“Fik, kalau memang dia anggap kamu cinta abadinya pasti dia bisa memafkan kamu. Tapi kalau dia tidak bisa memaafkan kamu berarti yang dibilang sama kamu bahwa kamu itu cinta abadinya, itu semua bohong,” Kata Inggrid yang menganggapku pembohong.
Setelah mendengar perkataan Inggrid tadi Fikar tambah marah dan terus memaki-maki Inggrid. HP Fikar berdering, dan ternyata itu adalah SMS dari Aiman yang isinya, tentang aku. Aku sakit dan di bawa ke Rumah Sakit diberi tahu Fikar.
Setelah mengetahui aku kalau aku ada di Rumah Sakit ia pun pergi ke Rumah Sakit tersebut tanpa mengantar Kak Inggrid pulang. Sesampainya disana dia hanya melihatku terbaring lemas di atas tempat tidur pasien. Baru saja dokter yang menanganiku keluar dari ruanganku (ruangan 12). Aiman menanyakan keadaanku kedokter itu, tapi yang dibilang dokter itu aku hanya terkena hujan terlalu lama dan membuat aku jatuh sakit dan pingsan, katanya juga aku harus lebih banyak istirahat. Itu yang ia katakan ke Aiman, sahabatku.
Aiman pun masuk ke ruanganku, tapi aku belum sadarkan diri juga. Ia mencoba membangunkanku, “Nin, bangun….. bangun dong Nin,” Katanya mencoba membangunkanku. Tak lama kemudian tanganku mulai bergerak dan mataku mulai terbuka, aku mulai sadarkan dari pingsan yang cukup lama.
“Nin,” Kata Aiman terkaget. Aku tak memperhatikan Aiman, aku langsung bicara yang tak kusadari.
“Aku ada dimana……? Apa aku sudah ada di surga bersama Ibu……? apakah ini yang dinamakan surga……? Kataku tak sadarkan diri.
“Nin, kamu bukan ada di surga, tapi kamu ada di Rumah Sakit sekarang. Kamu masih ingat aku kan?” Kata Aiman mengingatkanku.
“Oh…… Aku ada di Rumah Sakit,” Kataku melirik kearah Aiman, “Aku masih ingat kamu kok, Aiman,” Lanjutku.
“Alhamdulillah,” Katanya bersyukur.
“Aiman, Fikar mana?”
“Fikar ada diluar. Mau aku panggilkan?”
“Iya.”
Aiman pun memanggil Fikar dan ia bersama masuk ke ruanganku. “Sory ya Man, kamu bisa nggak meniggalkanku dengan Fikar berdua,” Kataku dengan nada lembut. Aiman pun keluar meninggalkanku.
Tinggal kami berdua saja yang ada diruangan itu. Aku pun mengambil tas yang tadi ku pakai, yang isinya kotak kecil yang berisikan kado ulang tahun Fikar. Kukeluarkan kotak kecil itu.
“Fik, ini hadiah ulang tahun dari aku, sory ya aku tak sempat memberikannya tadi ke kamu.” Kataku sambil memberikan kotak itu.
“Apa ini?” Tanyanya. “Hm…… nggak apa-apa kok. Maafkan aku juga ya?”
“Buka aja…… nggak apa juga kok aku mengerti perasaan kalian,” Kataku mulai mengeluarkan air mata. “Kita nggak usah mengungkit itu lagi ya,” Air mataku pun berjatuhan. Fikar membuka kotak kecil itu, ia pun melihat sebuah Jam tangan yang berbentuk bulat yang didalam kaca jam tangan itu bertuliskan “FN”.
“Jam tangan…… FN. Thank’s ya Nin,” Katanya sambil mengambil jam tangan itu.
“FN, Fikar Nina. Kamu suka tidak?”
“Suka banget,” Katanya, dan disambung, “Aku sayang sama kamu jangan menangis lagi ya,” Katanya sambil menghapus air mata yang berjatuhan di pipiku. Ia mendekatiku, mendekat, mendekat dan mendekat, lalu bibirnya menyentuh bibirku. Adegan ciuman pun terjadi antara aku dan Fikar, untuk yang pertama kalinya bagiku. Tak lama Aiman pun masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dan membuatku kaget lalu adegan itu terhentikan.
“Sory, kalau aku ganggu kalian,” Kata Aiman yang sedikit merasa tidak enak karena menganggap sudah mengganggu kami berdua. Dan disambung, “Nin, keluarga kamu sudah tau apa yang terjadi sama kamu, jadi mungkin mereka akan datang besok atau besok lusa.” Katanya yang membutaku melirik malu kepadanya dan sangat salah tingkah dibuatnya. Aiman pun keluar dan menutup pintunya kembali.
Fikar memakai jam tangan itu, “Kupakai ya?” Katanya. Aku hanya bisa mengangguk lalu tangisku berderai lagi.
“Apa ini?” Tanyanya menunjukkan surat yang saat itu kutaruh di dalam kotak hadiah Fikar.
“Baca aja!” Jawabku sambil menangis. Dia pun membaca surat itu dan mengeluarkan air mata sedikit demi sedikit. Melirik kepadaku dan menyimpan surat itu kembali.
“Jangan nangis ya, aku juga ikut nangis kan,” Katanya sambil menghapus air mataku, aku tersenyum kecut dan Fikar mencium dahiku dengan penuh kasih sayang.
“Thank’s ya Fik, tapi kayaknya memang kita harus berpisah, dan sudahi hubungan yang kita jalin ini.” Kataku serius, “Sory ya, mungkin aku tidak akan bertemu kamu lagi. Dan ini mungkin pertemuan kita yang terakhir.” Kataku dengan nada kecewa.
“Kenapa musti disudahi aku masih sayang sama kamu, dan masih cinta sama kamu.” Kata Fikar.
“Sory Fik, tapi aku sudah terlanjur sakit. Mendekatlah dan kubisikkan kata terakhirku.” Kataku, dan Fikar mendekatkan dirinya ke aku.
“My Love Is Forever Love, For You….”
“I Love My First Love….”
“I Love You ‘FIKAR’…. You are My First Love And You are My Forever Love….”
Setelah mengatakan itu aku langsung membalikkan diriku kearah yang berlawanan dengan Fikar. Ia pun mengerti apa yang aku maksud. ia keluar dan meninggalkanku diruangan, tapi ia menungguku diluar ruangan, tempat orang menunggu. Dengan bergantian Aiman masuk ke ruanganku dan duduk di tempat Fikar tadi.
“Kamu nggak apa-apa kan?” Katanya yang membuatku membalik kearahnya dan melirik kepadanya.
“Aiman. Aku nggak apa-apa kok.”
“Lalu kenapa kamu menangis?”
“Nggak kok aku cuma masih merasa sakit hati aja di khianati seperti itu.” Kataku dengan hati kecewa, “Memangnya aku salah apa sih sama Fikar sampai-sampai dia tega membuat aku sakit hati seperti ini.”
“Kamu nggak salah apa-apa kok. Kamu yang sabar saja ya,” Katanya membujukku.
“Man, tadi sore saat kita hujan-hujanan di jalan aku dengar yang kamu bilang itu. Memangnya apa yang kamu bilang itu benar?” Tanyaku.
“Iya, memang apa yang kamu bilang itu benar. Sebenarnya aku tuh sayang sama kamu dan cinta sama kamu dari saat pertama kita bertemu. Itu perasaan aku yang sejujurnya dari hatiku. I LOVE YOU NINA.” Kata Aiman mengungkapkan perasaannya dan jujur kepadaku.
“Makasih ya, kamu sudah cinta sama aku dengan tulus. Tapi kenapa kamu nggak jujur saja dari dulu sama aku?” Jawabku dengan rasa sangat bersalah.
“Aku takut nanti kamu marah sama aku. Lagi pula juga kamu kan sudah bilang kalau Fikar itu cinta abadi kamu, dan otomatis pasti Fikar tidak akan pernah bisa tergantikan di hati kamu. Jadi apa juga gunanya aku mengungkapkan perasaan aku. Dan aku yakin pasti kamu menolak cintaku.” Jelasnya.
“Seharusnya kamu ungkapkan itu sama aku dari dulu, agar kejadian ini tidak terjadi, tapi sudahlah aku juga tidak akan menyesali ini semua kok,” Kataku. Dan ku lanjut,
“Aiman, mendekatlah kata terakhirku ingin ku ungkapkan untuk kamu.” Kataku pada saat-saat terakhirku.
“Kamu kenapa bilang begitu sama aku………” Kata Aiman terputus karena jari telunjukku menyentuh bibirnya dan menyuruhnya untuk diam.
“Mendekatlah dan kubisikkan kata terakhirku.” Kataku meminta Aiman mendekat dari aku, agar aku bisa mengatakan,
“I Love You To………”
“You are My Best Friend Is The Best………”
Kata terakhirku terucap dengan nada tangis yang dibarengi dengan penghembusan nafas terakhirku. Mataku tertutup dengan tanpa nafas. Aiman mengeluarkan air mata dengan sangat deras dan berteriak kecil, “NINA……!!!”
“You are My First love, And You are My Best Friend Is The Best To......” Kata Aiman berbisik di telingaku yang sudah tak berfungsi lagi. Dan keluarlah air mata dari mataku yang sudah tak berdaya lagi. Nyawaku berakhir di tempat itu dengan hati kecewa, sakit, meranah, dan terluka.
SELESAI
Karya:
Putri Ananda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar